![]() |
| Tulang keluarga yang di akat dari dalam kubur |
![]() |
| Kerba sebagai hewan kurban diikat di sepundu ( kayu ulin atau kayu besi yang diukir seperti manusia ) |
| Kediring ( tempat penyimpanan tulang - belulang keluarga secara permanen ) |
Upacara Gawai Dalok Suku Dayak Uud Danum
Dalam kehidupan masyarakat dayak, khususnya
suku dayak Uud Danum yang mendiami Wilayah Kalimantan Barat, yaitu Kabupaten
Sintang Kecamatan Serawai-Ambalau, mereka melakukan upacara kematian Upacara kematian ini dinamakan Upacara Dalo’, yaitu upacara untuk mengantar
arwah yang sudah mati menuju tempat kediaman abadi. Bagi
masyarakat Dayak Uud Danum, tempat ini adalah tempat yang indah di mana Dia
Yang Mahatinggi (Tahala’) berada.
Upacara ini bisa dikatakan sebagai upacara pemakaman yang kedua. Upacara
pemakaman yang pertama dilakukan ketika orang baru saja meninggal. Setelah
beberapa waktu orang ini dikuburkan, kuburan ini akan digali lagi dan
tulang-belulangnya akan dipindahkan ke suatu tempat yang baru. Inilah yang
dimaksud dengan Upacara Dalo’
(Upacara Angkat Tulang).
A. Pengertian
Gawai Darok Gawai Darok adalah bentuk penghormatan terhadap arwah keluarga dan
nenek moyang tersebut, diwujudkan dalam sebuah gawai besar yang disebut dengan
istilah gawai darok. Dalam gawai ini, setiap orang mengambil tulang belulang
keluarga dan nenek moyang masing-masing dari dalam kubur. tulang-tulang
tersebut lalu dimasukan ke dalam gong dan disimpan di rumah khusus. sampai pada
akhirnya tulang-tulang tersebut akan dimasukan ke dalam kediring atau sandung
yang berukuran 3 x 2 meter.
dalam gawai darok, ada sekitar 15 orang yang mengambil
tulang leluhur. karena gawai darok menghabiskan biaya besar, masyarakat dayak
uud danum hanya melaksanakan gawai ini dalam kurun waktu 10 tahun sekali. gawai
darok merupakan gawai untuk memberikan penghormatan tertinggi dan terakhir
dalam siklus kematian masyarakat dayak uud danum,” katanya.setelah dikubur,
arwah keluarga dan nenek moyang uud danum masih dalam perjalanan menuju surga.
gawai darok dilaksanakan untuk mengantarkan arwah mereka ke surga.
Pesta Dalo’
dibagi menjadi dua tingkatan yaitu Dalo’
Nahpeng dan Dalo’ Kodiring. Dalo’ Nahpeng adalah Dalo’ yang tidak dibuat Kodiring atau tiwah (rumah tulang) dan
tulang tidak diangkat dari kuburnya. Tetapi hanya kuku atau rambut saja yang di
pahat pada Sopunduk (sebuah patung manusia yang terbuat dari kayu Tebelian
Ulin/kayu besi).. Jika hal ini dilakukan, maka diyakini sang arwah di
alam baka hanya mempunyai sebuah Takun
(kamar) di dalam rumah (betang) yang permanen. Dalo’ Ngodiring maksudnya adalah upacara adat Dalo’ dengan membuat Kodiring
(rumah tulang). Jika hal itu dilakukan maka bagi arwah orang yang di Dalo’ di alam baka akan mempunyai sebuah
Lovu (rumah yang sangat permanen).
Pada upacara Dalo’ ini, jika
penyelenggaraannya membunuh kerbau, maka selain Torasch ( tiang kayu panjang yang ujungnya seperti mata
tombak. Kayu ini terbuat dari kayu Tebelian ). dan Sopondu’, juga harus mendirikan Sokalan
(semacam tiang dari kayu belian besar dan tinggi, pada puncaknya ditempatkan
sebuah tempayan).
Pesta Dalo’
dibuka dengan upacara Nohkak Ucak
(menumbuk padi). Upacara ini dilakukan pertama-tama untuk memberitahu Tahala’ bahwa tuan rumah akan mengadakan
pesta mengantarkan arwah keluarganya yang telah meninggal sehingga Tahala’ berkenan mengijinkan dan
memberkati pesta ini.
Dalam upacara Dalo’
ini, Sopundu’ termasuk benda sentral
dalam upacara. Sopundu’ tidak
langsung dipasang/ditancap di halaman rumah. Ada upacara awal yang dilaksanakan
untuk memasang Sopundu’. Upacara ini
disebut Ngitot Sopundu’ (mengantar Sopundu’). Setelah upacara ini selesai,
barulah Sopundu’ bisa didirikan. Pada
jaman dahulu, tuan rumah akan meletakkan kepala manusia di bawah Sopundu’ untuk menjadi kurban/tumbal
bagi Sopundu’ tersebut. Kepala
manusia ini diperoleh dari mengayau. Namun kebiasaan ini telah dihentikan sejak
disepakatinya perjanjian Tumbang Anoi (Pertemuan pada tanggal 1 Januari
1894 di Tumbang Anoi ini membahas tentang kesepakatan untuk berhenti mengayau
dan membebaskan para Jihpon (budak) di bumi Kalimantan. Pada tiang Sopundu’ ini biasanya digantung kepala
hewan kurban. Kepala ini dimaksudkan sebagai ucapan syukur kepada Tahala’.
Orang Uud Danum percaya bahwa roh Sopundu’ inilah yang akan menjadi budak bagi arwah yang dihantarkan
itu. Budaknya ini akan melayani arwah yang dihantarkan itu saat telah berada di
Betang abadi. Budaknya inilah yang akan mencuci pakaian, memasak, berburu,
ataupun mencari kayu bakar untuk tuannya. Segala macam peralatan yang akan
dipakai oleh budak ini nanti dipersiapkan dalam upacara Puhkung (Semacam tarian roh yang dilakukan pada malam saat
tulang masih berada di pondok dekat rumah tuan pesta ).
Upacara terakhir yang sangat penting adalah
mengantarkan tulang ke Kodiring (Sandung). Kodiring adalah sebuah rumah kecil berbentuk betang. Rumah ini
berfungsi untuk menampung tulang-belulang sanak keluarga yang telah menjalani
pesta Dalo’. Kodiring ini adalah miniatur surga bagi arwah yang telah meninggal.
Pada jaman dahulu, ada kebiasaan untuk mengabukan tulang-tulang tersebut
sehingga yang dibawa masuk ke Kodiring
adalah abu dalam guci kecil. Pengabuan ini dimaksudkan sebagai penghapusan dosa
dan salah dari arwah yang telah meninggal. Namun kebiasaan ini telah lama
ditinggalkan.
Tulang belulang orang yang dipestakan ini dibawa oleh
suami, istri, ataupun anak-anaknya. Untuk membawa tulang ini, ia harus
mengenakan Takui Dalo’, mandau, dan
kain penggendong. Tulang belulang ini diletakkan di dalam kain tersebut.
Upacara pengantaran terakhir ini disebut Naloh.
Dengan dihantarkannya tulang-belulang ini ke Kodiring, masyarakat Uud Danum meyakini bahwa arwah yang
dihantarkan telah sampai ke Betang abadinya. Untuk mengusir segenap roh jahat
ataupun Otu’ (hantu) yang mengikuti
masyarakat selama pesta Dalo’,
diadakanlah Hopohau’(Hopohau’
yaitu semacam permainan masyarakat yang mengikuti pesta Dalo’.
Orang-orang yang mengikuti pesta Dalo’ saling melempar ataupun
melumuri badan dengan oli bekas, minyak rambut, lumpur, minyak goreng bekas,
dan bahkan kotoran babi dan sapi ).
Dalam upacara Dalok terdapat beberapa tarian – tarian yang
dilakukan seperti:
a.
Tari Kanjan Kanjan ialah pantun yang dilagukan dan
dilantunkan sahut – menyahut baik oleh laki – laki ataupun perempuan dalam
suatu pesta atau pertemuan. Apabila pesta diadakan untuk menyambut tamu yang
dihormati maka kalimat – kalimat yang dilantunkan lebih bersifat pujian,
sanjungan doa dan harapan mereka kepada tamu yang dihormati itu. Biasanya acara
disertai jamuan alakadarnya.
b.
b.Tari Tasai Tari Tasai adalah suatu gerakan yang
dilakukan oleh penari secara beramai-ramai dengan mengelilingi patung yang telah
di buat dalam acara gawai darok atau pesta kematian.
c.
Tari Alu Tari alu adalah suatu gerakan yang dilakukan
oleh seorang penari di atas alu,tarian ini biasanya dilakukan dengan cara
berpasangan untuk memeriahkan acara pesta yang diselenggarakan.








Trimakasih telah post upacara adat dalok ini.
BalasHapusIni sangat bermanfaat bagi kami yg masih pelajar