Rabu, 27 Mei 2015

Upacara Dalo'k Suku Dayak Uud Danum

Tulang keluarga yang di akat dari dalam kubur


Kerba sebagai hewan kurban diikat di sepundu ( kayu ulin atau kayu besi yang diukir seperti manusia )

Kediring ( tempat penyimpanan tulang - belulang keluarga  secara  permanen )
Upacara Gawai Dalok Suku Dayak Uud Danum
Dalam kehidupan masyarakat dayak, khususnya suku dayak Uud Danum yang mendiami Wilayah Kalimantan Barat, yaitu Kabupaten Sintang Kecamatan Serawai-Ambalau, mereka melakukan upacara kematian Upacara kematian ini dinamakan Upacara Dalo’, yaitu upacara untuk mengantar arwah yang sudah mati menuju tempat kediaman abadi. Bagi masyarakat Dayak Uud Danum, tempat ini adalah tempat yang indah di mana Dia Yang Mahatinggi (Tahala’) berada. Upacara ini bisa dikatakan sebagai upacara pemakaman yang kedua. Upacara pemakaman yang pertama dilakukan ketika orang baru saja meninggal. Setelah beberapa waktu orang ini dikuburkan, kuburan ini akan digali lagi dan tulang-belulangnya akan dipindahkan ke suatu tempat yang baru. Inilah yang dimaksud dengan Upacara Dalo’ (Upacara Angkat Tulang).
 A.  Pengertian Gawai Darok Gawai Darok adalah bentuk penghormatan terhadap arwah keluarga dan nenek moyang tersebut, diwujudkan dalam sebuah gawai besar yang disebut dengan istilah gawai darok. Dalam gawai ini, setiap orang mengambil tulang belulang keluarga dan nenek moyang masing-masing dari dalam kubur. tulang-tulang tersebut lalu dimasukan ke dalam gong dan disimpan di rumah khusus. sampai pada akhirnya tulang-tulang tersebut akan dimasukan ke dalam kediring atau sandung yang berukuran 3 x 2 meter.
dalam gawai darok, ada sekitar 15 orang yang mengambil tulang leluhur. karena gawai darok menghabiskan biaya besar, masyarakat dayak uud danum hanya melaksanakan gawai ini dalam kurun waktu 10 tahun sekali. gawai darok merupakan gawai untuk memberikan penghormatan tertinggi dan terakhir dalam siklus kematian masyarakat dayak uud danum,” katanya.setelah dikubur, arwah keluarga dan nenek moyang uud danum masih dalam perjalanan menuju surga. gawai darok dilaksanakan untuk mengantarkan arwah mereka ke surga.
Pesta Dalo’ dibagi menjadi dua tingkatan yaitu Dalo’ Nahpeng dan Dalo’ Kodiring. Dalo’ Nahpeng adalah Dalo’ yang tidak dibuat Kodiring atau tiwah (rumah tulang) dan tulang tidak diangkat dari kuburnya. Tetapi hanya kuku atau rambut saja yang di pahat pada Sopunduk (sebuah patung manusia yang terbuat dari kayu Tebelian Ulin/kayu besi).. Jika hal ini dilakukan, maka diyakini sang arwah di alam baka hanya mempunyai sebuah Takun (kamar) di dalam rumah (betang) yang permanen. Dalo’ Ngodiring maksudnya adalah upacara adat Dalo’ dengan membuat Kodiring (rumah tulang). Jika hal itu dilakukan maka bagi arwah orang yang di Dalo’ di alam baka akan mempunyai sebuah Lovu (rumah yang sangat permanen). Pada upacara Dalo’ ini, jika penyelenggaraannya membunuh kerbau, maka selain Torasch ( tiang kayu panjang yang ujungnya seperti mata tombak. Kayu ini terbuat dari kayu Tebelian ). dan Sopondu’, juga harus mendirikan Sokalan (semacam tiang dari kayu belian besar dan tinggi, pada puncaknya ditempatkan sebuah tempayan).
Pesta Dalo’ dibuka dengan upacara Nohkak Ucak (menumbuk padi). Upacara ini dilakukan pertama-tama untuk memberitahu Tahala’ bahwa tuan rumah akan mengadakan pesta mengantarkan arwah keluarganya yang telah meninggal sehingga Tahala’ berkenan mengijinkan dan memberkati pesta ini.
Dalam upacara Dalo’ ini, Sopundu’ termasuk benda sentral dalam upacara. Sopundu’ tidak langsung dipasang/ditancap di halaman rumah. Ada upacara awal yang dilaksanakan untuk memasang Sopundu’. Upacara ini disebut Ngitot Sopundu’ (mengantar Sopundu’). Setelah upacara ini selesai, barulah Sopundu’ bisa didirikan. Pada jaman dahulu, tuan rumah akan meletakkan kepala manusia di bawah Sopundu’ untuk menjadi kurban/tumbal bagi Sopundu’ tersebut. Kepala manusia ini diperoleh dari mengayau. Namun kebiasaan ini telah dihentikan sejak disepakatinya perjanjian Tumbang Anoi (Pertemuan pada tanggal 1 Januari 1894 di Tumbang Anoi ini membahas tentang kesepakatan untuk berhenti mengayau dan membebaskan para Jihpon (budak) di bumi Kalimantan. Pada tiang Sopundu’ ini biasanya digantung kepala hewan kurban. Kepala ini dimaksudkan sebagai ucapan syukur kepada Tahala’.

Orang Uud Danum percaya bahwa roh Sopundu’ inilah yang akan menjadi budak bagi arwah yang dihantarkan itu. Budaknya ini akan melayani arwah yang dihantarkan itu saat telah berada di Betang abadi. Budaknya inilah yang akan mencuci pakaian, memasak, berburu, ataupun mencari kayu bakar untuk tuannya. Segala macam peralatan yang akan dipakai oleh budak ini nanti dipersiapkan dalam upacara Puhkung (Semacam tarian roh yang dilakukan pada malam saat tulang masih berada di pondok dekat rumah tuan pesta ).
Upacara terakhir yang sangat penting adalah mengantarkan tulang ke Kodiring (Sandung). Kodiring adalah sebuah rumah kecil berbentuk betang. Rumah ini berfungsi untuk menampung tulang-belulang sanak keluarga yang telah menjalani pesta Dalo’. Kodiring ini adalah miniatur surga bagi arwah yang telah meninggal. Pada jaman dahulu, ada kebiasaan untuk mengabukan tulang-tulang tersebut sehingga yang dibawa masuk ke Kodiring adalah abu dalam guci kecil. Pengabuan ini dimaksudkan sebagai penghapusan dosa dan salah dari arwah yang telah meninggal. Namun kebiasaan ini telah lama ditinggalkan.
Tulang belulang orang yang dipestakan ini dibawa oleh suami, istri, ataupun anak-anaknya. Untuk membawa tulang ini, ia harus mengenakan Takui Dalo’, mandau, dan kain penggendong. Tulang belulang ini diletakkan di dalam kain tersebut. Upacara pengantaran terakhir ini disebut Naloh. Dengan dihantarkannya tulang-belulang ini ke Kodiring, masyarakat Uud Danum meyakini bahwa arwah yang dihantarkan telah sampai ke Betang abadinya. Untuk mengusir segenap roh jahat ataupun Otu’ (hantu) yang mengikuti masyarakat selama pesta Dalo’, diadakanlah Hopohau’(Hopohau’ yaitu semacam permainan masyarakat yang mengikuti pesta Dalo’. Orang-orang yang mengikuti pesta Dalo’ saling melempar ataupun melumuri badan dengan oli bekas, minyak rambut, lumpur, minyak goreng bekas, dan bahkan kotoran babi dan sapi ).



Dalam upacara Dalok terdapat beberapa tarian – tarian yang dilakukan seperti:
a.    Tari Kanjan Kanjan ialah pantun yang dilagukan dan dilantunkan sahut – menyahut baik oleh laki – laki ataupun perempuan dalam suatu pesta atau pertemuan. Apabila pesta diadakan untuk menyambut tamu yang dihormati maka kalimat – kalimat yang dilantunkan lebih bersifat pujian, sanjungan doa dan harapan mereka kepada tamu yang dihormati itu. Biasanya acara disertai jamuan alakadarnya.
b.    b.Tari Tasai Tari Tasai adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh penari secara beramai-ramai dengan mengelilingi patung yang telah di buat dalam acara gawai darok atau pesta kematian.
c.    Tari Alu Tari alu adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh seorang penari di atas alu,tarian ini biasanya dilakukan dengan cara berpasangan untuk memeriahkan acara pesta yang diselenggarakan.

1 komentar:

  1. Trimakasih telah post upacara adat dalok ini.
    Ini sangat bermanfaat bagi kami yg masih pelajar

    BalasHapus